Selasa, 04 Februari 2014

Crazy For The Storm (A True Story) – Norman Ollestad




Judul : Crazy For The Storm
Penulis : Norman Ollestad
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Qanita
Halaman : 327

“Kami tergeletak di antara reruntuhan pesawat. Tubuh kami berada di tepi sebuah lubang dengan kemiringan 45 derajat yang siap mencemplungkan kami ke suatu tempat tak dikenal. Dalam deru angin dan salju yang sangat dingin, kami berayun-ayun pada ketinggian 76 meter dari puncak—jarak antara hidup dan mati.”

“Ayah dan aku adalah satu tim, dan dia adalah Superman.” Itulah yang ditulis Norman. Tetapi kini, sang ayah telah tewas sedangkan dirinya masih berusia sebelas tahun dan terjebak dalam gunung bersalju setelah pesawatnya menabrak gunung.

Dalam duka yang mendalam, Norman yang dipenuhi kenangan akan didikan ayahnya, berjuang mati-matian menembus medan yang sangat berat, dinginnya salju dan badai es tanpa makanan tanpa minuman. Bocah itu mencoba bertahan hidup seorang diri.

~ <<<>>> ~

Luar biasaaaaa..…
Pengalaman Norman bersama ayahnya (sebelum kecelakaan itu) melakukan hal-hal extreme bersama-sama, ikatan yang dibentuk keduanya, ayah Norman yang selalu berpikir positif membuatku kagum.
Kalau dibuku itu tidak ada catatan “A True Story” aku akan mengira ini buku fiksi, apa yang dialami Norman membuatku terpana.
Kehidupan di Pantai Topanga, perjalanan ke Mexico – lari dari pos penjagaan, ditembak, truk yang mogok, memasuki rawa-rawa, hutan, akhirnya menemukan pantai dan pemukiman –, kegiatan sehari-harinya – berselancar dengan legenda, skateboard, hoki, football, sepak bola – bagiku itu menakjubkan.
Pada saat kecelakaan pesawat menimpanya dia bertekad untuk menyelamatkan ayahnya seperti ayahnya yang selalu menyelamatkannya di saat dia mengalami kesulitan. Perjuangannya, langkah demi langkah untuk keluar dari gunung, melawan hawa yang sangat dingin, naik turun perasaannya pada saat itu dijelaskan secara terperinci di buku ini.
Hidup harus terus dijalani setelah kecelakaan itu, dan dari semuanya dia berterima kasih karena ayahnya telah mengajarinya berselancar, berselancar membuatnya diterima dikalangan murid populer selain itu berselancar memberikan dia kebebasan, membuatnya merasa kuat dan berani dan menjadi bagian dari sesuatu yang hebat.
Fakta di akhir buku ini membuatku merinding, keajaiban… keajaiban yang membuat Norman bisa selamat dari kecelakaan itu.

~ <<<>>> ~

“Karena hasilnya indah kalau semuanya menyatu.” (hal 74)

“Hebat kau, Ollestad si Mata Elang. Lihat kan? Jangan pernah menyerah.” (hal 103)

“Jangan mencemaskan kemenangan, Ollestad. Tetaplah mencoba. Sisanya akan menyusul.” (hal 105)

Hal-hal yang indah kadang-kadang bercampur aduk dengan yang mengerikan, bahkan bisa terjadi pada saat yang bersamaan, atau yang satu menimbulkan yang lain, pikirku. (hal 144)

Rasa duka,” kata Eleanor. “Jika kau begitu larut di dalamnya, akan tumbuh sesuatu yang beracun seperti kanker di dalam dirimu. Ayahmu adalah mahakaryanya.” (hal 281)

Hidup bukan sekadar bertahan melewatinya. Di dalam setiap kegundahan terdapat ketenangan – seberkas cahaya yang terkubur dalam kegelapan. (hal 306)

Aku ingin menjelaskan cobaan itu agar dia mengerti bahwa melongok ke dalam diri untuk mengatasi sesuatu yang tampaknya tak mungkin ditaklukkan dapat dimiliki setiap orang, terutama dirinya. (hal 308)

Ayahku membentukku agar merasa nyaman dalam badai. (hal 318)

Rasa : mengalir, tersenyum, tegang, kesal, terharu, gelisah, kagum, terpana, terpesona, deg-degan, merinding



Tidak ada komentar:

Posting Komentar